Ming. Nov 30th, 2025

Di pelataran Eks Rumah Mbesaran Pabrik Gula (PG) Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, langit senja menjadi saksi peringatan Hari Pahlawan yang dibalut musikalisasi puisi (10/11/2025). Panggung sederhana berdiri di antara bangunan bersejarah dan pepohonan, sementara warga setempat datang membawa kursi lipat dan harap—ingin melihat bagaimana kata-kata lama bisa bernapas lagi lewat nada.

Malam itu, puisi-puisi tentang pengorbanan dan makna kemerdekaan dibacakan selintas seperti surat rindu kepada masa lalu; diiringi gitar akustik, perkusi ringan, dan sesekali teriakan penuh semangat dari penampil. Atmosfernya bukan sekadar pertunjukan seni—lebih terasa seperti gotong-royong emosional: tiap bait menuntut reaksi, tiap melodi mengundang ingatan.

Komunitas sastra lokal, musisi muda, dan sejumlah pegiat sejarah yang tergabung dalam Dewan Kesenian Kabupaten Brebes mengubah ruang bekas pabrik gula menjadi arena dialog antargenerasi. Di antara kursi penonton, pelajar menulis catatan; seorang perempuan paruh baya mengusap mata; seorang bapak tua tersenyum mengenang kata-kata yang dulu mungkin pernah ia dengar di medan tempur—sebuah pengingat bahwa pahlawan juga tinggal di ingatan kolektif.

Pentas ini menawarkan cara lain memperingati: bukan hanya upacara formal, tetapi penghormatan yang didekati melalui seni. Musikalisasi puisi memaksa penonton untuk mendengarkan lebih lama, meresapi ritme kata, dan menghubungkan sejarah dengan kehidupan sehari-hari—bahwa makna kemerdekaan perlu terus ditafsirkan ulang oleh setiap generasi.

Dari sudut keamanan publik, acara seperti ini menunjukkan nilai pencegahan dini: ruang-ruang publik yang aman dan penuh kegiatan positif membantu merajut solidaritas warga. Hadirnya kegiatan seni di lokasi bersejarah juga menegaskan fungsi ganda tempat umum—sebagai monumen dan sebagai panggung hidup yang menyuburkan kebersamaan.

Menjelang penutupan, sebagian penampil mengajak audiens bergabung—membacakan bait bersama, menyanyikan refrain yang sederhana namun menyentuh. Suara bergabung, lalu menghilang; lampu panggung meredup; namun resonansi kata dan nada tetap menggantung, seolah pengingat: menghormati pahlawan tak berhenti pada satu hari. (Kun)

By

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *