Brebes, 28 Oktober 2025 — Bumiayu–Salem, Brebes — Embun pagi belum hilang dari pucuk ilalang ketika truk sayur melintas mulus di ruas Bumiayu–Salem yang baru diaspal. Tak ada lagi lumpur dan guncangan yang dulu membuat sopir seperti Japar (47) harus menahan napas di tanjakan Babakan. “Dulu lewat sini bisa ngempos, sekarang lancar,” ujarnya sambil tertawa lega.
Ruas jalan sepanjang satu kilometer itu memang tampak biasa. Tapi bagi warga Salem dan sekitarnya, ini seperti garis hidup baru. Bertahun-tahun mereka bergulat dengan jalan rusak—berlubang, becek, dan kerap memutus aliran ekonomi desa. Kini, setelah proyek rehabilitasi senilai Rp1,95 miliar rampung pada akhir September 2025, arah hidup mereka ikut berubah.
Di warung kopi Bu Narmi, cerita tentang “jalan baru” tak pernah berhenti. “Sekarang yang lewat banyak, omset warung saya naik dua kali lipat,” katanya sumringah. Ojek desa kembali ramai, pedagang kebun bisa mengirim hasil panen lebih cepat, anak sekolah pun tak lagi mogok di tengah jalan.
Beberapa waktu lalu, kisah warga Salem yang urunan dan menjual ternak demi memperbaiki jalan sempat viral. Cerita itu menggugah empati dan akhirnya menjadi pemicu langkah nyata pemerintah. Menyadari pesan dari rakyatnya, Pemkab Brebes melalui Dinas PUPR bergerak cepat memperbaiki ruas-ruas rusak, termasuk Bumiayu–Salem.
“Pekerjaan ini bukan hanya soal beton dan aspal, tapi soal mengembalikan kepercayaan warga bahwa pembangunan hadir untuk mereka,” ujar Bupati Brebes saat peresmian.
Kini Brebes selatan pelan-pelan menepis label “tertinggal.” Dari jalan satu kilometer ini, geliat ekonomi warga mulai hidup lagi. “Sekarang kirim hasil bumi ke pasar Bumiayu cukup satu jam. Dulu bisa dua jam lebih,” kata Pak Nur, petani dari Salem.
Video sebelum dan sesudah perbaikan pun ramai di media sosial. Komentarnya beragam, tapi hampir semua bernada bangga. “Akhirnya Brebes selatan merasakan pembangunan nyata,” tulis seorang warganet. Ada juga yang bercanda, “Dulu lewat sini bisa cuci mobil gratis, sekarang bisa selfie tanpa debu.”
Sore di jalur Bumiayu–Salem kini terasa berbeda. Anak-anak bersepeda tanpa takut, pedagang sayur tersenyum lebar, dan truk pengangkut hasil bumi lewat tanpa suara rem menjerit. Satu kilometer jalan mungkin tak mengubah dunia, tapi cukup untuk menghubungkan kembali kepercayaan warga dengan pemerintahnya. Karena kemajuan, kadang, berawal dari satu jalan yang benar-benar menghubungkan.
Jalan Pulang yang Kini Tak Lagi Berliku

