Redaksi Mitra Brebes — Di ruang rapat utama Kantor Bupati Brebes, Selasa (10/9/2025), deretan angka bertemu harapan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyerahkan data kemiskinan terbaru kepada Pemkab Brebes. Di atas kertas, jumlah penduduk miskin menurun dari 283.280 jiwa (2024) menjadi 257.290 jiwa (Maret 2025). Sebuah capaian penting, meski tetap menyisakan tanya: apakah penurunan ini benar-benar terasa di dapur warga?
Wakil Bupati Wurja menegaskan, penanganan kemiskinan ekstrem harus dilakukan secara komprehensif, tidak sekadar menyalurkan bantuan. “Kami dorong keluarga penerima manfaat untuk naik kelas, agar bisa keluar dari daftar kemiskinan melalui usaha produktif,” ujarnya.
Dalam forum itu, Pemkab memaparkan sederet program: pemberdayaan UMKM, pelatihan kerja berbasis potensi lokal, hingga program graduasi KPM. BPS pun mengingatkan pentingnya data yang mutakhir dan terintegrasi, agar kebijakan tak salah sasaran — terutama karena masih ditemukan desa yang belum sinkron data dan penerima bantuan ganda.
Apresiasi datang dari Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priono, yang menyebut Brebes sebagai daerah dengan peserta graduasi terbanyak se-Indonesia. Sementara Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengingatkan pentingnya kolaborasi: “Output pembangunan itu kesejahteraan masyarakat. Tapi mencapainya harus bareng-bareng.”
Namun di luar rapat, data berubah jadi cerita.
Pak Jamil, petani cabai dari Tanjungsari, mengaku kini lebih cepat menjual hasil panen berkat jalan desa yang sudah bagus. “Dulu motor sering mogok di jalan becek, sekarang bisa pulang sebelum subuh,” katanya polos, tapi sarat makna.
Sementara Ibu Ratna dari Pinggirsawah bercerita rumahnya tak lagi bocor, dan anaknya kini mengajar di SD desa. Dua kisah kecil yang menegaskan: pembangunan fisik bisa mengubah nasib sosial.
Brebes masih menghadapi tantangan besar — dari wilayah rawan banjir hingga pasar lokal yang belum stabil. Karena itu, pemerintah berkomitmen menggelar evaluasi berkala tiap semester, memastikan kebijakan tidak berhenti di ruang rapat.
Akhirnya, penurunan angka kemiskinan bukanlah akhir cerita. Ia baru bab pertama dari perjuangan panjang agar warga tak sekadar “tidak miskin,” tetapi benar-benar hidup sejahtera. Sebab di balik setiap data, ada wajah-wajah yang menunggu perubahan nyata.

